Kamis, 28 September 2017

Seperti Mendapat Jackpot

Tidak bosan-bosan aku menulis tentang menjadi mahasiswa. Bagiku menjadi mahasiswa itu benar-benar hebat! Pikiranku terasa terbuka lebar, bahwa kesempatan itu ada dimana-mana, bahwa kita lah yang akan memilih mau dibawa kemana diri ini. Saat ini, sudah semester 3. Banyak sekali pengalaman yang sudah di alami. Senang, sedih, suka, duka, kecewa, bangga, bahkan hingga perasaan campur aduk yang membuat menangis sambil tertawa hehehe.Berbagai kepanitiaan, banyak praktikum, kuliah, organisasi, pkm, seminar dan pengalaman-pengalaman lain yang panjang sekali jika diceritakan. Bagiku, aku seperti mendapat jackpot. Lebih tepatnya, seperti diguyur jackpot terus menerus (bahasaku wkwk). Hebat!


Belajar Ikhlas

Assalamualikum, yeorobun!!!
Wah, sudah lama sekali tidak menulis di blog. Terakhir saya lihat post-an tahun 2015 hehehe 😃

Dulu, aku pernah nulis tentang gimana sih masa-masa putih abu-abu. Nah, sekarang aku sudah melewati masa-masa itu. Sudah tambah tua, hehe. Alhamdulillah, sekarang aku sedang melanjutkan pendidikanku di Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian, UNS. Insyaallah istikomah dengan jurusan ini.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa aku bisa banting stir ke jurusan ini, bahkan beberapa kerabat juga kaget ketika aku masuk jurusan ini. Jawaban andalanku ketika ditanya "Kenapa?" hanyalah "Saya pengin belajar bisnis. Pertaniannya tambahan aja.". Well, sebenarnya itu bukan jawaban yang salah juga sih. Karena sejauh yang aku pelajari memang unsur-unsur ekonominya banyak sekali, bidang pertaniannya hanya dasar-dasarnya saja. Pada awalnya, memang aku terpaksa memilih jurusan ini. Jadi ceritanya, karena cobaan tidak diterima SNMPTN (kasus SMA 3 🙁), SBMPTN, dan PKN STAN aku menjajal banyak sekali ujian-ujian masuk wkwkwk. Sampai akhirnya alhamdulillah bisa lolos 3 opsi. Dan disitulah negara api mulai menyerang, eh. Dan disitulah kebimbangan ini melanda hehehe. Aku dihadapkan dengan jurusan Administrasi Bisnis Terapan, Kebidanan, dan yang terakhir adalah Agribisnis. Memikirkannya membuat pusing, kadang juga nangis tiba tiba (kalau ku inget sekarang lebay banget deh wkwk). Dan akhirnyaaaa, aku memantapkan hati untuk kuliah di Agribisnis. Kenapa? Karena itu di UNS, UNS itu di Solo, dan Solo itu bukan di Semarang. Jadi, aku pengin nyobain gimana sih rasanya hidup sendiri, penge ngerasain nge kos itu gimana, pengen ngerasain hidup sehari-hari tanpa saudara dan orang tua. Well, secara garis besar itu. Awalnya aku juga mikir mengenai prospek dari kuliah di pertanian karena pandanganku sempit banget tentang pertanian. Tapi, orang tua ku juga mendukung kalau mau kuliah di pertanian. Perkataan yang benar-benar ku camkan saat itu gini, "Kakak, terserah mau kuliah dimana. Tapi, jangan pernah mikir besok mau kerja dimana. Mama sama papa tidak menuntut kamu untuk menjadi orang dengan banyak uang. Kamu jadi orang yang berguna bagi sekitar, itu sudah cukup. Kamu kuliah bukan untuk cari uang, tapi untuk dapetin ilmunya. Soal rezeki itu sudah diatur Allah." Memang susah sekali untuk menerapkan nasihat itu. Sampai masuk kuliah pun aku masih tetap mikir "besok mau jadi apa?". Ya, memang maba selalu begitu hehe. So, here i am. Akhirnya jadi maba pertanian di tahun 2016.

Selama menjadi mahasiswa semester awal, aku mulai tahu pertanian itu bagaimana. Banyak praktikum hingga dijuluki Fakultas Praktikum, capek memang, tapi senang karena banyak praktikum ke lapang dan diluar Solo jadi bisa sekalian jalan-jalan. Alhamdulillah teman-temanku baik dan sangat mendukungku. Kalau dipikir-pikir, pencapaian saya yang saat ini semuanya berkat dorongan dan motivasi dari teman-teman. Mereka seperti memberi saya kesempatan untuk terus maju. Mereka adalah karunia dari Allah yang sangat berharga. Untuk urusan akademik, aku tidak terlalu ambil pusing, asalkan diatas 3,5 saja (sama aja sih ini ambil pusing juga wkwk, tapi yang penting usaha aja sih, sambil jalan santai insyaallah bisa). Hikmah yang sampai saat ini saya dapat dari belajar di Fakultas Pertanian lebih pada perbaikan diri. Belajar di pertanian membuat saya banyak belajar mengenai apa saja kekuranganku. Aku banyak belajar mengenai ikhlas dan sabar. Dua hal yang sangat sulit untuk saya terima awalnya. Jadi, semua ini bermula dari pelajaran metode ilmiah hehehe. Dosennya kebetulan adalah seorang yang paham agama Islam (bisa dibilang ustad atau kiai). Jadi disela-sela kuliah aku merasa seperti mendapat siraman rohani sampai pada suatu saat tiba-tiba aku menangis saat sedang kuliah tersebut. Kenapa? Karena sesuatu seperti menusuk dalam sekali dalam hatiku. Waktu itu Pak Dosen menanyakan apakah benar karena kerja keras dan usaha kita maka kita akan berhasil? Well, aku berpikir memang iya. Karena selama ini memang selalu begitu. Aku belajar giat biar nilai bisa bagus. Tapi pandangan ku berubah saat itu. Berhasil atau tidaknya kita bukan ditentukan karena usaha kita, melainkan karena Allah. Memang terdengar simpel. Tapi kalau dipikirkan dengan dalam, wihh, benar benar membuat saya takluk. Penjelasan dari Pak Dosen waktu itu membuat saya berpikir bahwa apa yang dikatakan kedua orang tua saya dulu benar adanya. Kita harus menyisipkan Allah disemua kegiatan kita. Tujuan hidup manusia itu bukanlah menjadi orang yang sukses. Misi kita adalah untuk beribadah kepada Allah. Saat itu, aku merasa seperti menjadi orang yang beruntung sekali karena bisa memahami sedikit mengenai makna hidup ku ini. Mulai saat itulah, aku belajar untuk ikhlas karena Allah, sabar karena Allah, mempercayai Allah dengan hati. Jadi, aku merasa mungkin kuliah di pertanian merupakan salah satu jalan Allah untuk meluruskan niatku, meluruskan hatiku. Sampai saat ini, masih sering menangis kalau mengingat semua itu.

Ohya, aku juga ingat dulu pas SMA kelas 12 guru matematikaku pernah menyuruh siswanya untuk menulis diselembar kertas mengenai apa jurusan yang diinginkan dan kenapa memilih jurusan itu. Dan aku saat itu menulis Agribisnis, karena saya ingin membantu mengelola lahan pertanian orang tua. Pilihan itu, aku pilih pas awal masuk kelas 12, saat belum ada pandangan mau masuk kejurusan apa. Jadi, ya kaya bener bener pilihan itu pure banget dari hati. Pak matematika juga saat itu menegaskan bahwa apa yang kami tulis di kertas itu insyaallah akan menjadi jalan kami. Dan ternyata, memang benar. Mungkin memang itulah yang sejak awal diriku sendiri inginkan, namun keinginan itu sepertinya tertutupi oleh berbagai macam pemikiran lain seperti prospek kedepan bahkan sampai mengenai pemikiran orang lain kalau aku masuk pertanian.

Dari ceritaku diatas, kesimpulannya adalah percaya sama Allah. Allah memiliki rencana yang lebih hebat dari apa yang kita rencanakan. Skenario Allah tidak bisa dikalahkan oleh manusia. Rezeki itu sudah diurus Allah, kita sebagai hambaNya tidak perlu ragu akan hal itu. Urusan rezeki jangan dibuat susah deh..

Akhirul kalam, tetap semangat ya!
Wassalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.