Sebelumnya udah pernah di share di Fb. Iseng aja pengen nge share di blog. Soalnya bingung mau di apain blognya. ^^ Happy reading guys!
¤by. Queenshiee¤
Go Mi Rae >< Xi Lu Han
Riakan air laut yang mengisi relung-relung dangkal kerak bumi seolah
menyalurkan kekuatannya menuju daratan yang mencuat. Membuat tubuhku
tergoyang mengikuti tarian gelombang laut yang bergesekan dengan
sisi-sisi kapal yang kutumpangi. Kapal yang sedang singgah ini diam, tak
bergerak. Rencananya ia akan melanjutkan ekspedisinya esok hari. Kapal
penumpang ini memang biasa singgah di Pulau Jeju dua kali seminggu. Dan
ini kedua kalinya diminggu ini. 'Paradise Way' itulah yang tercantum
pada bahtera sisi kapal ini. Memang agak konyol, namun jika diperhatikan
maknanya sangat logis. Kapal ini ibarat jalan penghubung menuju Surga,
Pulau Jeju.
Aku memposisikan diriku di haluan kapal. Tepat di sudutnya. Suasana
malam ini tampak sepi. Hanya ada sang Dewi Malam, berlian langit, dan
riak asin air laut yang menemani malamku. Aku memegang pagar pembatas
kapal itu erat agar tak kehilangan keseimbangan. Surai hitam panjangku
kubiarkan terurai terhembus angin darat. Angin yang membawa pikiranku
melayang mengenang kepergianmu. Dua bulan sudah kutahan rasa rinduku
ini. Dan saat ini, bulan yang merekah sempurna di bulan ketiga. Tahukah
kau artinya? Artinya rinduku sudah membuncah dan tak sanggup kuhadapi
lagi kebuasannya.
Aku menunggumu. Tapi kau tak pernah datang. Aku mencoba bersabar.
Tapi kau tetap tak kunjung hadir. Lalu aku harus bagaimana mengatasinya?
Apa perlu aku menunggu lagi?
Berbagai spekulasi datang membayangi otakku. Oppa masih setia
padaku, bukan? Seperti yang selalu oppa katakan di atas kapal Paradise
Way ini, "Aku selalu mencintaimu, Mirae." Hanya kalimat itu yang
membuatku sanggup bertahan dan bersabar.
Aku tersenyum meneguhkan hatiku. Aku akan menunggumu lagi. Di atas
Paradise Way seperti yang kau janjikan. Aku menunggu rengkuhan hangatmu
yang akan membuatku membatu. Perlahan, aku melepas peganganku. Lalu
merentangkan lenganku melawan angin malam. Kupejamkan manikku. Merasakan
setiap hembusan yang menelisik setiap inci tubuhku yang hanya dibalut
sweater berwarna coklat manis pemberianmu yang dipadu dark jeans yang
kusuka. Aku gagal, cairan yang sedaritadi kubendung akhirnya meluncur
bebas melewati ekor mataku. Semakin lama semakin deras. Kecewa. Itu yang
kurasakan sekarang. Dua bulan hanya penantian yang sia-sia yang tak kan
pernah berujung jika aku tetap menunggumu, oppa. Sungguh, kabar burung
itu tak pernah kupercayai. Tapi saat itu memang benar terjadi, bagaimana
mungkin aku membalikkan fakta.
Kau meninggalkanku begitu cepat. Aku sebatangkara yang telah
mendapat pasangan dan kemudian berakhir dengan kesendirian lagi. Aku
bukan orang yang mudah tegar, oppa. I'm nothing without you.
Tangisanku semakin menjadi ketika tak kudapatkan rengkuhan hangatmu.
Kau benar-benar telah pergi. Aku melangkahkan kakiku menaiki pagar
pembatas itu. Pikiran warasku seakan hilang saat lautan di hadapanku
terbentang tanpa batas. Hitam kelam sejauh mata memandang. Hanya ada
sebuah titik terang yang kulihat di timur-ku, mercusuar yang meliuk-liuk
sorot lampunya.
Aku tak bisa tanpamu, oppa. Aku akan menyusulmu menuju surga. Sama
sepertimu, aku akan mengakhirinya di genangan air asin ini. Terimakasih,
sudah mengingatku dan membagi cintamu padaku. Andai kapal yang
membawamu kembali padaku tidak karam, aku pasti sudah hidup bahagia
bersamamu.
Aku melangkahkan kakiku. Semakin mendekati ujung kapal. Lalu mulai
membungkukkan tubuhku dan tak melawan arah gravitasi bumi ini. Satu
kalimat yang kupikirkan, "Nado Saranghae, Luhan oppa."
Paradise Way. Sejarah cinta kita bermula disini dan berakhir disini.
Kapal ini menjadi saksi bisu perjalanan cintaku, cintamu, cinta kita
yang penuh penantian. Aku berharap kapal ini akan menjadi penghubung aku
dan Oppa menuju surga.
Paradise Way.
.
.
.
END