Rabu, 01 Oktober 2014

FF -You're My Destiny- (sudah pernag ku post dimana-mana.. jadi ini hanya repost saja ;p)

Tittle: You Are My Destiny

Author: Queenshie
Genre: Romance (gagal), AU.
Rating: PG-15

Lemgth: Ficlet (812 words)
Casts:
*Choi Siwon
*Nam Jihyeon
*Other cast

Disclaimer: The storyline is pure mine. Gak tau kenapa tiba-tiba tengah malem dapet wangsit buat nulis FF gaje ini.  Happy reading guys! ^^ Dan.. Mmm~ Dont be Plagiator or Silent Reader!!
Xie Xie^^

***

Semilir udara membawa aroma khas kopi tercium di setiap sudut coffe bean bernuansa coklat kayu itu. Alunan lagu bergenre jazz terdengar lembut di seluruh penjuru ruangan seakan menambah kesan hangat café itu. Seorang wanita bermanik hitam menawan dengan potongan rambut panjang ikal tampak duduk di salah satu meja bundar café itu. Sesekali ia melirik jam yang melingkari tangan mungilnya. Sejam yang lalu, Choi Siwon, kekasihnya memintanya bertemu setelah jam makan siang. Namun, sepertinya ia akan terlambat. Sudah 30 menit terlewat, dan Siwon belum datang juga. Jihyeon agak kesal dan sedikit khawatir. Ia menyesap mocchacino dihadapannya. Ia melirik arlojinya lagi. Huh, 45 menit. Ia mulai kehilangan kesabarannya. Ia meraih ponselnya, berniat menelpon Siwon. Namun ia mengurungkan niatnya. Terdengar langkah kaki mendekatinya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati kekasihnya sudah datang. Lalu, ia tersenyum agak kesal.

Choi Siwon, lelaki bertubuh atletis itu sudah duduk berhadapan dengan Jihyeon.

"Oppa, apa kau berniat membuatku berjamur karena menunggumu?"kesal Jihyeon yang disambut kekehan kecil Siwon.

"Mianhae, chagiya. Ada kecelakaan di jalan, jadi sedikit macet."tukas Siwon. Kemudian, Siwon memanggil seorang waiter yang lewat disampingnya.
"A cup of espresso, please."pesan Siwon. Waiter itu mengangguk lalu berlalu. Sampai sekarang, Jihyeon masih belum mengerti alasan Siwon sangat menyukai espresso, kopi kental beraroma kuat itu.
"Oppa, ada hal penting apa sehingga Mr.Siwon yang sangat sibuk ini meluangkan waktunya untuk bertemu denganku?"tanya Jihyeon. Namun, Siwon yang saat ini sedang sibuk dengan I-phone nya hanya diam saja. Membuat yeoja ini sedikit kesal.

"Yaa! Oppa, sebaiknya tak usah bertemu saja kalau disini oppa juga sibuk sendiri. Aku bahkan sudah menunggu lama. Sudah pulang saja!"pekik Jihyeon agak keras. Seketika Siwon mengalihkan pandangannya.
"Mulai bicaranya nanti saja ya, setelah espressonya datang."ucap Siwon diiringi cengiran tanpa dosanya, lalu kembali menatap I-phone.

***

Jihyeon menatap gelisah lelaki dihadapannya. Ia mulai mengerti maksud ajakan Siwon. Lelaki itu, kini tengah menatapnya dengan tatapan berbeda. Tatapan yang sedikit aneh dan membuat Jihyeon curiga. Walau baru menebak apa yang akan di utarakan Siwon, yang jelas maniknya mulai berkaca-kaca. Padahal belum tentu tebakannya benar.

Sebuah helaan nafas berat menghiasi pendengaran Jihyeon. Siwon agak memajukan badannya.

"Maksudku mengajakmu bertemu, sebenarnya...."ucap Siwon menggantung. Ia menghela nafas berat lagi. Tampaknya ia agak grogi untuk melanjutkan ucapannya. Jihyeon yang sudah yakin bahwa tebakannya benar mulai tak tahan membendung airmatanya.

"Baiklah, aku ingin status kita sebagai pasangan kekasih hilang."lontar Siwon akhirnya. Siwon tampak lega. Senyuman tertempel diwajah tampannya. Namun, gadis dihadapannya sudah berderai airmata. Jihyeon seolah ingin mengatakan "Bingo, aku benar kan."

"Tapi, aku benar-benar mencintaimu, Oppa.."tukas Jihyeon disela-sela tangisannya. Siwon yang mendengarnya hanya bisa menarik salah satu sudut bibirnya. Kemudian, ia menyesap espresso-nya.
Detik berikutnya, Siwon sudah tak terlihat di hadapan Jihyeon yang tersedu.

"Oppa, saranghaeyo.."isaknya. Ia tak habis pikir bahwa hubungannya dengan Siwon telah kandas begitu mudahnya. Padahal baru berjalan 8 bulan. "Apa aku membosankannya?, apa aku kurang cantik?, apa aku kurang perhatian?, apa aku....."batinnya. Ia menatap cangkir espresso Siwon yang tersisa setengah cangkir dengan pilu. Kemudian, ia menyandarkan kepalanya ke meja.

Alunan musik jazz berganti menjadi lagu yang cukup terkenal, Davichi_Don't Say Goodbye. Suara tinggi sang duo diva ini benar-benar menakjubkan. Tapi, Jihyeon tampak tak senang dengan lagu itu. Terlebih lagu itu seolah menggambarkan perasaannya saat ini. Ia menutup daun telinganya dengan tangan. Air mata masih menghiasi manik hitamnya.

Oneulbam geu malmaneun marayo~
Wae nal beorigo ganayo.
Nae maeumi apha, gaseumi apha.
Nunmul chaollayo.
Ajigeon annyeong urin andwaeyo.
Neun geu ibeul deo yeoljima.
Annyeonggirago naege malhajima~

Jihyeon berteriak frustasi karena alunan lagu itu masih bisa menelusup gendang telinganya. Sontak, pengunjung yang ada disana menolehkan pandang menuju Jihyeon. Tampak rasa iba pada tatapan mereka.

***

Jihyeon tampak lega. Akhirnya lagu itu selesai juga. Alunan musik yang baru saja diputar kembali menggerayangi telinganya. Lagu yang cukup familiar dengan pendengarannya. Lagu yang sangat ia harapkan akan terjadi di dunia nyata nya. Namun, harapan itu sekarang hanya menjadi buih tak bernyawa yang telah menjadi angin.

"Ah, ada apa dengan lagu-lagu di café ini. Kenapa begitu memojokkanku."batin Jihyeon. Ia kembali menaruh kepalanya di atas meja. Airmatanya sudah terkuras habis. Ia terlihat sangat lelah sekarang. Ia menutup maniknya. Hingga terdengar suara riuh tepuk tangan dari segala penjuru ruangan.

"Ah, ada apa ini?"batin Jihyeon. Dengan terpaksa ia menengadahkan kepala, mencari alasan tepuk tangan para pengunjung café itu. Dan begitu terperangahnya ia saat mendapati errr.. mantan kekasihnya sedang berlutut disampingnya. Ia tampak menyodorkan sebuah kotak hitam yang di dalamnya terisi oleh sebuah cincin bertahtakan berlian yang terlihat sangat menakjubkan.

"Aku bermaksud menjadikanmu istriku, bukan kekasihku. Will you marry me, Nam Jihyeon?"tukas Siwon. Tepukan dan teriakan para pengunjung terdengar semakin keras. Jihyeon tampak berkedip-kedip. Lalu menghentakkan kepalanya di atas meja berharap ia akan terbangun dari mimpi konyolnya ini. Namun, sayup-sayup lagu Syupeo Junyeo_Marry U seolah memberitahu bahwa ia dalam kondisi sadar.

Orae juhnbutuh nuhreul wihae junbihan
Nae sone bitnaneun banjireul badajwuh
Oneulgwa gateun maeumeuro jigemui yaksok giuhkhalge
Would you marry me?
.
.
.
.
.

.
FIN

Pasti tau kan apa jawabannya Jihyeon.
Don’t Forget RCL!!!

Rabu, 27 Agustus 2014

Halo semuanya... Perkenalkan nama ku Farah Fadzilah. Biasa dipanggil Farah :) Disini aku mau nge-share pengalaman aku selama satu tahun masuk SMA. Walau cuma setahun, tapi emang bener kata orang kalau "Jaman putih abu-abu itu yang paling mengesankan and unforgettable". Okesip, ku mulai aja ya...

Dari SD, aku gak pernah milih-milih sekolah. Aku gak peduli mau sekolah dimana yang penting aku bisa sekolah :D Dari dulu, semua yang nentuin ortu. Aku di suruh ngelanjutin sekolah jauh dari ortu pun aku oke-oke aja. Aku pikir itu semua pilihan ortu, dan pastinya bakal baik buat aku kedepannya. So, aku tinggal ngejalanin aja. Tapi, semakin tambah umur, aku mulai sadar bahwa gak mungkin banget apa-apa di tentuin ortu mulu. Apalagi ini berhubungan sama masa depan-ku sendiri. So, untuk masuk SMA ini aku mulai buat target-target SMA yang sesuai keinginanku. Kata mama, SMA nanti aku bakal di Semarang. Aku bebas milih di SMA mana yang penting di Semarang! Its okay.. Semarang bagus juga kok. Ini dia daftar SMA yang pengen aku masuki:
1. SMA 3 Semarang (Siapa sih yang ga kenal sekolah segudang prestasi ini... pasti jadi nomer satu dong..)
2. SMA 9 Semarang (Walaupun gradenya agak jauh dari SMA 3, tapi oke juga lah.. Deket sama rumah, hemat ongkos PP)
3. SMA 4 Semarang (Wah, ini juga salah satu SMA fave... tapi aku agak gimana gitu... Tapi tempatnya deket sama rumah. Yasudahlah masuk list ke-3)

nah itu dia.. Dan setelah penantian panjang nunggu hasil UN terus pengumuman SMA. Alhamdulillah SMA 3!!! Dan tambah seneng lagi kalo tau aku masuk jurusan MIA. Entah kenapa aku gatau, apa karna cita-cita ku pengen jadi dokter atau karena jurusan MIA bakal lebih mudah buat masik PTN nantinya, entahlah.. Itu masih misteri dalam diri saya... Hehehe..

Duh, kalo nginget setahun kebelakang itu lucu banget... Aku masih semangat-semangatnya sekolah. Dan cinta banget sama SMA 3. Sampe sering buat tulisan dan coret-coretan gaje buat penyemangat sekolah di SMA 3 (Smaga). Karna aku sadar, disini aku bukan limited edition seperti di SMP (hehehe). Tapi aku berada di antara orang-orang hebat. Semua yang masuk sini nggak orang sembarangan. Jadi, jangan sampe malu-maluin lah ;p

~Setahun Kemudian~

Hehehe... Langsung setahun kemudian aja ya... Oke, kurikulum 2013 emang berat ya.. Tapi semakin kesini, aku jadi semakin biasa aja. Pulang sore? its okay, buat masa depan nanti pasti bakal kelihatan manfaatnya. Alhamdulillah nilaiku pun ga jelek-jelek amat menurut pandanganku. Its so standart. hehehe... Tapi alhamdulillah masih bisa lah dapet sebutan cum laude :)

Lanjuut.. Sekolah di Smaga gak etis ah kalo gak ikut ekstra atau kalo di smaga disebut "SUBSIE" yang hampir 50-an itu.. Awalnya aku gak tentu ikut subsie apa. Kadang ikut karawitan, kadang ansamble, seni tari juga pernah. Nah, di smaga ini ada sebutan 4P untuk ekstra2 berwujud organisasi gitu ;3 Past udah pada tau kan 4P itu apa... yap!! 4P itu subsie yang terdiri dari (PMR, PKS, PAS, PASKIBAR). Okay, lengkap bukan? Aku pernah ikut Paski, tapi keluar karna gakuat. Trus aku pindah ke PMR... Awalnya sih karna paksaan, tapi semakin kujalani, aku semakin gak mau out dari PMR. So, sampai sekarang aku tetep stay ;)

Alhamdulillah dari PMR ini, aku bisa mencetak prestasi di SMA 3. Walau perjuangan nya berat, tapi karna dorongan dan semangat dari yang lain jadi membuatku lebih giat untuk terus belajar... And then, there is the result.

Okay... Itu dia segelintir kisah kecil ku selama 1 tahun kebelakang ini..
Tetep semangat.. Duh, udah jadi kakak kelas wkwkwk.. Rasanya cepet banget ;3

Okay makasih udah sempetin baca.. Thanksseuuu~

Senin, 27 Januari 2014

DRABBLE | It's You (Sequel Paradise Way) | ^QueenStory^

 ¤by. Queeshie¤

Go Mi Rae>< Xi Lu Han


Sorot cahaya yang menembus tirai jendela kamar menyentuh kedua kelopak mataku. Memaksa kedua manik itu untuk merekah menyambut hari yang baru. Tubuhku terasa remuk redam. Manikku tetap mengatup menghiraukan aroma masakan yang menggoda penciumanku.

Aku ingat apa yang kulakukan pada malam bulan purnama semalam. Aku yakin sekarang aku sudah ada di surga. Aku akan menemuimu, oppa. Pikiran itu menyihir manik mataku untuk menampakkan coklatnya irisku. Aku menatap sekitarku. Ruangan beromansa biru laut dengan banyak foto yang hanya menampilkan dua sosok insan. Aku dan Luhan oppa. Aku mendudukkan diri. Hei! Ini kamarku, bukan? Aku berlari menuju tirai dan membukanya paksa. Daribalik jendela, masih bisa kulihat bibir pantai yang tak tenang itu. Bagaimana bisa? Aku masih di Jeju? Ini tidak benar. Seharusnya aku sudah mati terombang-ambing dilautan. Aku memandangi tubuhku. Sweater coklat manis dan dark jeans bertengger disana. Perasaan bingung menggelayutiku.

Aroma masakan yang singgah dihidungku semakin kuat seiring pulihnya kesadaranku. Sup ikan, aku yakin. Sup ikan makanan kesukaanku aku menghapal aromanya. Aku melangkahkan kakiku menuju dapur.

Tampak seseorang sedang sibuk dengan masakannya. Ia sedang mengaduk masakan di panci sedang milikku. Ya! Ini rumahku. Bagaimana aku bisa ada disini? Aku tidak tahu.

"Kau siapa?"tanyaku membuat tubuh dihadapanku terdiam lalu memutar.

"Kau sudah bangun rupanya. Basuh wajahmu lalu tunggu di meja makan. Sup ikannya hampir matang."

Aku mematung. Mataku merekah sempurna. Sosok itu, lelaki yang kurindukan, tengah tersenyum dengan manisnya. Bagaimana ia bisa disini? Bukankah kapal yang membawanya karam? Apakah ini memang benar surga?

"Lu.. Luhan oppa.."aku tercekat. Lalu menghambur merengkuhnya melemahkan urat-urat kerinduan yang membuas di jiwa dan ragaku. Erat. Hangat. Luhan membalas rengkuhanku. Aku terisak.

"Kenapa oppa tega membuatku lama menunggu.. Aku benar-benar merindukanmu."

"Mianhaeyo, chagiya."

Chagiya. Kata yang begitu kurindukan dari bibirnya itu seolah menohok pikiranku yang pernah berpikir bahwa ia telah melupakanku. Aku merenggangkan pelukanku. Menatap wajahnya yang tak berubah sedikitpun. Senyuman mengembang diantara dua sudut bibirku. Ia tetap tersenyum lalu tangan-tangan lembutnya membingkai wajahku. Ibu jarinya menyentuh lembut pipiku, memutar, menghapus air mataku.

"Apa kita ini di surga oppa?"tanyaku bodoh. Perasaan rindu itu berganti dengan rasa penasaran.

"Ya.. Kita di surga. Di surga dunia, Jeju Island."jawabnya merdu mendayu-dayu.

"Jadi kita masih hidup?"pertanyaan bodoh itu meluncur bebas dari kedua belah bibir cherry-ku. Ia terkekeh geli. Aku mengernyitkan dahiku menuntut penjelasan. Ia mengacak surai hitamku yang berantakan lalu terkekeh lagi. Apa pertanyaanku benar-benar konyol?

"Selama cinta kita tetap bersemi, kita pasti akan bertahan hidup."

"Jadi kita masih hidup?"

"Menurutmu?"

"Kenapa oppa balas bertanya. Jawab saja ya atau tidak."

Ia mengalihkan pandangannya lalu memutar tubunya kembali menghadap kompor dan mematikannya. Lalu menghadapku kembali. Dengan gerakan cepat, ia menghapus jarak diantara kami. Merengkuhku lalu memagut bibirku lembut. Aku terbuai dan tersadar. Surga ataupun dunia itu tak penting selama ia masih berada disisiku.

"Aku mencintaimu, Mirae."ucapnya lirih ditelingaku.

"Nado."jawabku.

"Cepat bereskan dirimu lalu makan. Aku memasak sup ikan kesukaanmu." Aku mengangguk pelan lalu berlalu.

Aku masih hidup, aku yakin itu.

***

"Kudengar kapal yang membawamu karam.."aku memberanikan diri menanyakannya.

"Siapa yang mengatakannya?"

"Jadi itu tidak benar?"

"Kau salah paham. Kapal yang membawaku hanya terlambat sampai karena cuaca yang buruk memaksa kapalku untuk singgah sejenak di dermaga terdekat. Kapal Spectra I yang karam. Aku menaiki kapal Spectra II."jelasnya. Aku terdiam malu lalu menyeruput supku.

"Mirae.. Sudah kubilang kau harus menjaga dirimu. Bagaimana bisa kau tidur di haluan Kapal Paradise Way semalam. Andai aku tak menemukanmu, mungkin kau sudah diterkam angin malam."tegasnya. Aku mendongakkan kepalaku.

"Eh.. Aku hanya tertidur di kapal itu?"

"Bagaimana bisa kau lupa. Apa angin kencang itu telah mengikis memorimu?"

Aku membelalak. Jadi itu hanya bualan tidurku saja? Astaga.. Aku telah terperdaya oleh mimpiku sendiri.

"Ah.. Yang penting aku tak melupakanmu.."balasku sedikit menggoda.

Tak lama kemudian, terdengar lengkingan bel tanda kapal akan berangkat. Aku berlari menuju jendela. Benar, Paradise way akan melanjutkan ekspedisinya. Pandanganku tak lepas dari kapal itu yang semakin menjauh dari dermaga. Sepasang lengan merengkuhku dari belakang. Luhan oppa.
.
.
.
END