Senin, 27 Januari 2014

DRABBLE | It's You (Sequel Paradise Way) | ^QueenStory^

 ¤by. Queeshie¤

Go Mi Rae>< Xi Lu Han


Sorot cahaya yang menembus tirai jendela kamar menyentuh kedua kelopak mataku. Memaksa kedua manik itu untuk merekah menyambut hari yang baru. Tubuhku terasa remuk redam. Manikku tetap mengatup menghiraukan aroma masakan yang menggoda penciumanku.

Aku ingat apa yang kulakukan pada malam bulan purnama semalam. Aku yakin sekarang aku sudah ada di surga. Aku akan menemuimu, oppa. Pikiran itu menyihir manik mataku untuk menampakkan coklatnya irisku. Aku menatap sekitarku. Ruangan beromansa biru laut dengan banyak foto yang hanya menampilkan dua sosok insan. Aku dan Luhan oppa. Aku mendudukkan diri. Hei! Ini kamarku, bukan? Aku berlari menuju tirai dan membukanya paksa. Daribalik jendela, masih bisa kulihat bibir pantai yang tak tenang itu. Bagaimana bisa? Aku masih di Jeju? Ini tidak benar. Seharusnya aku sudah mati terombang-ambing dilautan. Aku memandangi tubuhku. Sweater coklat manis dan dark jeans bertengger disana. Perasaan bingung menggelayutiku.

Aroma masakan yang singgah dihidungku semakin kuat seiring pulihnya kesadaranku. Sup ikan, aku yakin. Sup ikan makanan kesukaanku aku menghapal aromanya. Aku melangkahkan kakiku menuju dapur.

Tampak seseorang sedang sibuk dengan masakannya. Ia sedang mengaduk masakan di panci sedang milikku. Ya! Ini rumahku. Bagaimana aku bisa ada disini? Aku tidak tahu.

"Kau siapa?"tanyaku membuat tubuh dihadapanku terdiam lalu memutar.

"Kau sudah bangun rupanya. Basuh wajahmu lalu tunggu di meja makan. Sup ikannya hampir matang."

Aku mematung. Mataku merekah sempurna. Sosok itu, lelaki yang kurindukan, tengah tersenyum dengan manisnya. Bagaimana ia bisa disini? Bukankah kapal yang membawanya karam? Apakah ini memang benar surga?

"Lu.. Luhan oppa.."aku tercekat. Lalu menghambur merengkuhnya melemahkan urat-urat kerinduan yang membuas di jiwa dan ragaku. Erat. Hangat. Luhan membalas rengkuhanku. Aku terisak.

"Kenapa oppa tega membuatku lama menunggu.. Aku benar-benar merindukanmu."

"Mianhaeyo, chagiya."

Chagiya. Kata yang begitu kurindukan dari bibirnya itu seolah menohok pikiranku yang pernah berpikir bahwa ia telah melupakanku. Aku merenggangkan pelukanku. Menatap wajahnya yang tak berubah sedikitpun. Senyuman mengembang diantara dua sudut bibirku. Ia tetap tersenyum lalu tangan-tangan lembutnya membingkai wajahku. Ibu jarinya menyentuh lembut pipiku, memutar, menghapus air mataku.

"Apa kita ini di surga oppa?"tanyaku bodoh. Perasaan rindu itu berganti dengan rasa penasaran.

"Ya.. Kita di surga. Di surga dunia, Jeju Island."jawabnya merdu mendayu-dayu.

"Jadi kita masih hidup?"pertanyaan bodoh itu meluncur bebas dari kedua belah bibir cherry-ku. Ia terkekeh geli. Aku mengernyitkan dahiku menuntut penjelasan. Ia mengacak surai hitamku yang berantakan lalu terkekeh lagi. Apa pertanyaanku benar-benar konyol?

"Selama cinta kita tetap bersemi, kita pasti akan bertahan hidup."

"Jadi kita masih hidup?"

"Menurutmu?"

"Kenapa oppa balas bertanya. Jawab saja ya atau tidak."

Ia mengalihkan pandangannya lalu memutar tubunya kembali menghadap kompor dan mematikannya. Lalu menghadapku kembali. Dengan gerakan cepat, ia menghapus jarak diantara kami. Merengkuhku lalu memagut bibirku lembut. Aku terbuai dan tersadar. Surga ataupun dunia itu tak penting selama ia masih berada disisiku.

"Aku mencintaimu, Mirae."ucapnya lirih ditelingaku.

"Nado."jawabku.

"Cepat bereskan dirimu lalu makan. Aku memasak sup ikan kesukaanmu." Aku mengangguk pelan lalu berlalu.

Aku masih hidup, aku yakin itu.

***

"Kudengar kapal yang membawamu karam.."aku memberanikan diri menanyakannya.

"Siapa yang mengatakannya?"

"Jadi itu tidak benar?"

"Kau salah paham. Kapal yang membawaku hanya terlambat sampai karena cuaca yang buruk memaksa kapalku untuk singgah sejenak di dermaga terdekat. Kapal Spectra I yang karam. Aku menaiki kapal Spectra II."jelasnya. Aku terdiam malu lalu menyeruput supku.

"Mirae.. Sudah kubilang kau harus menjaga dirimu. Bagaimana bisa kau tidur di haluan Kapal Paradise Way semalam. Andai aku tak menemukanmu, mungkin kau sudah diterkam angin malam."tegasnya. Aku mendongakkan kepalaku.

"Eh.. Aku hanya tertidur di kapal itu?"

"Bagaimana bisa kau lupa. Apa angin kencang itu telah mengikis memorimu?"

Aku membelalak. Jadi itu hanya bualan tidurku saja? Astaga.. Aku telah terperdaya oleh mimpiku sendiri.

"Ah.. Yang penting aku tak melupakanmu.."balasku sedikit menggoda.

Tak lama kemudian, terdengar lengkingan bel tanda kapal akan berangkat. Aku berlari menuju jendela. Benar, Paradise way akan melanjutkan ekspedisinya. Pandanganku tak lepas dari kapal itu yang semakin menjauh dari dermaga. Sepasang lengan merengkuhku dari belakang. Luhan oppa.
.
.
.
END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar